<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>suniskie</title>
    <link>https://suniskie.writeas.com/</link>
    <description>I was born to tell the stories.</description>
    <pubDate>Thu, 30 Apr 2026 16:02:34 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Buku Diari</title>
      <link>https://suniskie.writeas.com/seraya-menunggu-sup-ayam-yang-raka-buat-mendidih-dan-matang-lelaki-itu-memilih?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Seraya menunggu sup ayam yang Raka buat mendidih dan matang untuk makan siang, lelaki itu memilih melipir sejenak ke kamarnya. &#xA;&#xA;Ruangan tak terlalu luas itu bercahaya terang karena dua gorden besar telah disibak sejak subuh hingga cahaya mentari menembus masuk melalui kaca. Cat-nya sangat berwarna netral, putih. Langit-langitnya cukup tinggi dan dihiasi ornamen-ornamen kuning berbentuk awan. Itu bekas genangan air saat hujan. Tinggal menunggu waktunya air itu menembus dan membuat pasukan baskom siap untuk menampung bocorannya. &#xA;&#xA;Raka menghela napas. Kamar itu entah mengapa kini terlalu kosong dan asing untuknya. Seringkali lelaki berpotongan rambut rapi itu merasa kamarnya berbeda. Entah apa. Raka tidak tahu. Namun, seolah-olah itu adalah ruangan yang berbeda, Raka kini masih berdiri di dekat pintu. Menghela napas lagi dengan pelan, lalu menatap sepenjuru ruangan. &#xA;&#xA;Di salah satu sudut ruangan kamarnya, ada rak buku yang menjadi spot favorit-nya kala suntuk. Itu juga merupakan sudut favorit Nala ketika anak itu bertandang ke kamarnya. &#xA;&#xA;Raka berjalan mendekati rak buku itu. Ia menyentuh buku-buku koleksinya seraya tersenyum saat selentingan ingatan mengingat bagaimana kesulitannya Nala ketika anak itu harus mengambil buku di jajaran rak paling atas.&#xA;&#xA;&#34;Telling the truth,&#34; gumam Raka ketika matanya menangkap buku bersampul kulit dengan sedikit sapuan warna jingga pudar. &#xA;&#xA;Serat kulit di buku itu membuat Raka merenyitkan dahi. Terasa familiar, tetapi juga asing di waktu yang bersamaan. Tak menunggu waktu lama, Raka membuka tali pengikat buku itu dan langsung dihampiri tulisan rapi—tulisan tangannya sendiri—yang terdiri dari beberapa kalimat. &#xA;&#xA;Lo pasti lupa lagi ini buku apaan. Kalau buka buku ini, harus diingat; ini buku harian lo, Raka.&#xA;&#xA;Kerutan di dahi Raka semakin dalam dan menukik tajam. Lelaki itu menggaruk kecil pelipisnya yang mendadak gatal. Aneh sekali. Untuk apa ia menulis seperti itu di halaman pertama? Kenapa seolah-olah dia tahu bahwa Raka yang saat ini akan lupa mengenai apa isi buku itu?&#xA;&#xA;&#34;Ck. Buku apaan sih?&#34; decak Raka heran. Lalu, ia menepuk dahinya dengan keras ketika terdengar suara air mendidih dan bau hangus secara bersamaan. &#xA;&#xA;Raka lupa ia sedang memasak sup ayam! &#xA;&#xA;copyright © 2022 by suniskie.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Seraya menunggu sup ayam yang Raka buat mendidih dan matang untuk makan siang, lelaki itu memilih melipir sejenak ke kamarnya.</p>

<p>Ruangan tak terlalu luas itu bercahaya terang karena dua gorden besar telah disibak sejak subuh hingga cahaya mentari menembus masuk melalui kaca. Cat-nya sangat berwarna netral, putih. Langit-langitnya cukup tinggi dan dihiasi ornamen-ornamen kuning berbentuk awan. Itu bekas genangan air saat hujan. Tinggal menunggu waktunya air itu menembus dan membuat pasukan baskom siap untuk menampung bocorannya.</p>

<p>Raka menghela napas. Kamar itu entah mengapa kini terlalu kosong dan asing untuknya. Seringkali lelaki berpotongan rambut rapi itu merasa kamarnya berbeda. Entah apa. Raka tidak tahu. Namun, seolah-olah itu adalah ruangan yang berbeda, Raka kini masih berdiri di dekat pintu. Menghela napas lagi dengan pelan, lalu menatap sepenjuru ruangan.</p>

<p>Di salah satu sudut ruangan kamarnya, ada rak buku yang menjadi spot favorit-nya kala suntuk. Itu juga merupakan sudut favorit Nala ketika anak itu bertandang ke kamarnya.</p>

<p>Raka berjalan mendekati rak buku itu. Ia menyentuh buku-buku koleksinya seraya tersenyum saat selentingan ingatan mengingat bagaimana kesulitannya Nala ketika anak itu harus mengambil buku di jajaran rak paling atas.</p>

<p>“<em>Telling the truth,</em>” gumam Raka ketika matanya menangkap buku bersampul kulit dengan sedikit sapuan warna jingga pudar.</p>

<p>Serat kulit di buku itu membuat Raka merenyitkan dahi. Terasa familiar, tetapi juga asing di waktu yang bersamaan. Tak menunggu waktu lama, Raka membuka tali pengikat buku itu dan langsung dihampiri tulisan rapi—tulisan tangannya sendiri—yang terdiri dari beberapa kalimat.</p>

<p><em>Lo pasti lupa lagi ini buku apaan. Kalau buka buku ini, harus diingat; ini buku harian lo, Raka.</em></p>

<p>Kerutan di dahi Raka semakin dalam dan menukik tajam. Lelaki itu menggaruk kecil pelipisnya yang mendadak gatal. <em>Aneh sekali. Untuk apa ia menulis seperti itu di halaman pertama? Kenapa seolah-olah dia tahu bahwa Raka yang saat ini akan lupa mengenai apa isi buku itu?</em></p>

<p>“Ck. Buku apaan sih?” decak Raka heran. Lalu, ia menepuk dahinya dengan keras ketika terdengar suara air mendidih dan bau hangus secara bersamaan.</p>

<p>Raka lupa ia sedang memasak sup ayam!</p>

<h6 id="copyright-2022-by-suniskie" id="copyright-2022-by-suniskie">copyright © 2022 by suniskie.</h6>
]]></content:encoded>
      <guid>https://suniskie.writeas.com/seraya-menunggu-sup-ayam-yang-raka-buat-mendidih-dan-matang-lelaki-itu-memilih</guid>
      <pubDate>Sun, 03 Jul 2022 11:04:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sebuah Catatan</title>
      <link>https://suniskie.writeas.com/sebuah-catatan-bq3s?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ini sudah dua hari Raka berada di rumah—dalam artian tidak berangkat kerja, tidak mengantar Nala sekolah, pun tidak bertemu dengan Maro yang menghilang selama dua hari ini. !--more--&#xA;&#xA;Untuk yang satu itu, biarlah. Raka tidak peduli. &#xA;&#xA;Semua rutinitas itu tidak berjalan baik, kecuali memaksa Nara untuk tetap sekolah kendati sang kakak masih dalam masa pemulihan. Anak gadis itu sempat menangis karena memohon untuk diizinkan tidak masuk sekolah sebab ingin menemani Nala hingga sembuh total. Tentu saja Raka tidak mengizinkannya.&#xA;&#xA;Dan ini adalah dua hari lalu pula sejak hal yang ditakuti Raka terjadi—ia lengah mengawasi hal-hal yang dapat membahayakan adiknya. &#xA;&#xA;Alergi kacang bukanlah suatu hal yang bisa dianggap sepele oleh orang yang memiliki alergi akut seperti Nala. Saat diceritakan oleh Nara, dia bilang Nala sudah dalam keadaan pingsan saat Maro datang dan langsung melarikannya ke rumah sakit. Wajah anak itu membengkak, merah. Tidak. Raka tidak bisa mengingat hal itu lagi. Menyakitkan untuknya. &#xA;&#xA;&#34;Akak ...,&#34; Sudah dua hari ini pula Nala selalu mengingau saat tidur. Dan yang selalu disebut selalu orang yang sama. &#34;Akak Maro ....&#34;&#xA;&#xA;Raka berjalan mendekati anak lelaki itu, lantas menekuk lutut di pinggir ranjang Nala. Ia usap dahi adiknya dengan pelan agar Nala tidak terlalu terganggu. &#34;Ada apa ... Adek butuh apa? Bilang sama abang aja, ya?&#34;&#xA;&#xA;Suara sehalus sutra yang keluar dari bibir Raka tetap membangunkan Nala. Alergi pada anak itu tidak separah sebelumnya. Wajahnya tak lagi bengkak, napasnya sudah teratur dengan tenggorokan yang mungkin masih sedikit sakit. Itu sebabnya, suara Nala masih terdengar serak.&#xA;&#xA;&#34;Bang ....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maro Akak mana ....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Maro kerja, Dek. Kan Adek tahu kalau Kak Maro selalu kerja setiap hari, ndee?&#34;&#xA;&#xA;Walaupun bibir mengerucut lucu, Nala tetap mengangguk. Matanya sayu menatap netra Raka. Terlihat lemas. &#34;Ucap terima kasih belum dari kemarin-kemarin. Akak Maro tidak pulang, ya?&#34;&#xA;&#xA;Raka terdiam. &#xA;&#xA;Jika ia menjawab jujur, pasti Nala akan lanjut bertanya ini-itu. Tidak akan selesai hingga Raka bisa menjanjikan kepulangan Maro—yang sayangnya, selain tidak bisa berbohong pada sang adik, Raka pun tidak bisa berjanji sebab ia sendiri juga belum tahu apakah Maro pulang atau tidak. Ego dan kemarahan Raka pun masih sebesar di hari ketika ia tahu Nala dilarikan ke rumah sakit.&#xA;&#xA;&#34;Adek kenapa selalu cari kak Maro? Adek gak suka ya kalau cuma ada abang yang di sini?&#34; tanya Raka tanpa melepas pandangan dari sang adik. Tangannya merapikan rambut di dahi Nala. &#34;Selalu inginnya kak Maro saja?&#34;&#xA;&#xA;Tanpa diduga, Nala langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap sang kakak, lalu lucunya, anak itu mengambil tangan Raka dan menepuk-nepuk pelan punggung tangan Raka. &#xA;&#xA;&#34;No no no jealous no no no. Bukan begitu, Abang .... Nala eum—cari akak karena, karena akak selalu gak ada ....&#34;&#xA;&#xA;Raka tersenyum dan menepuk pelan puncak kepala Nala. Ia mengerti dengan maksud anak itu. Lantas, Raka memilih duduk di samping adiknya. Memperhatikan beberapa detik wajah adiknya yang masih agak pucat, tetapi jauh lebih baik dari sebelumnya. Raka bernapas lega. &#xA;&#xA;&#34;Iya ... nanti, kalau kak Maro pulang, abang bilangin kalau Adek mau bilang makasih, ya?&#34;&#xA;&#xA;Mengangguk-angguk lucu dengan antusias, lantas Nala mengucap, &#34;Makasih banyak-banyak ndeee, Abang! Nala sayang lebih besar Abang Raka many-many more!&#34;&#xA;&#xA;Raka tertawa. Dengan jahilnya ia mencubit pipi Nala karena gemas hingga anak itu protes. &#xA;&#xA;Saat ini masih pukul sembilan pagi. Sarapan nasi goreng yang dibuat sudah habis—karena ia memang sengaja memasak dua porsi untuk dirinya dan juga Nala, sebab anak itu tadi belum bangun. &#xA;&#xA;&#34;Abang buatkan sarapan dulu, ya? Adek kalau ada apa-apa, nanti teriak yang keras, bisa?&#34;&#xA;&#xA;Bibir Nala melengkung ke bawah seperti anak kecil berumur dua tahun ketika hendak menangis. &#34;Ndak bisa, ey .... Abang tahu sungguh Nala tenggorokan masih sakit ....&#34;&#xA;&#xA;Raka langsung tertawa lepas. Setiap sakit, Nala memang jauh lebih menggemaskan dan juga manja seperti anak kecil. &#34;Iya, iya. Kalau begitu, Adek bisa turun ke bawah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bisa!&#34; jawabnya semangat. &#34;Eum ... Api—tapi, boleh ndak sedikit tidur lagi? Masih sisa-sisa mengantuknya, Abang ....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh ... masih sedikit mengantuk. Iya, begitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;E-eum ...,&#34; kata Nala sambil menguap kecil dan mengucek matanya. &#xA;&#xA;Sungguh, Raka tidak pernah memandang adik-adiknya sebagai anak remaja berumur tujuh belas tahun. Lihat saja! Mana ada anak remaja tetapi begitu lucu dan menggemaskan seperti Nala? &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ini sudah dua hari Raka berada di rumah—dalam artian tidak berangkat kerja, tidak mengantar Nala sekolah, pun tidak bertemu dengan Maro yang menghilang selama dua hari ini. </p>

<p>Untuk yang satu itu, biarlah. Raka tidak peduli.</p>

<p>Semua rutinitas itu tidak berjalan baik, kecuali memaksa Nara untuk tetap sekolah kendati sang kakak masih dalam masa pemulihan. Anak gadis itu sempat menangis karena memohon untuk diizinkan tidak masuk sekolah sebab ingin menemani Nala hingga sembuh total. Tentu saja Raka tidak mengizinkannya.</p>

<p>Dan ini adalah dua hari lalu pula sejak hal yang ditakuti Raka terjadi—ia lengah mengawasi hal-hal yang dapat membahayakan adiknya.</p>

<p>Alergi kacang bukanlah suatu hal yang bisa dianggap sepele oleh orang yang memiliki alergi akut seperti Nala. Saat diceritakan oleh Nara, dia bilang Nala sudah dalam keadaan pingsan saat Maro datang dan langsung melarikannya ke rumah sakit. Wajah anak itu membengkak, merah. Tidak. Raka tidak bisa mengingat hal itu lagi. Menyakitkan untuknya.</p>

<p>“Akak ...,” Sudah dua hari ini pula Nala selalu mengingau saat tidur. Dan yang selalu disebut selalu orang yang sama. “Akak Maro ....”</p>

<p>Raka berjalan mendekati anak lelaki itu, lantas menekuk lutut di pinggir ranjang Nala. Ia usap dahi adiknya dengan pelan agar Nala tidak terlalu terganggu. “Ada apa ... Adek butuh apa? Bilang sama abang aja, ya?”</p>

<p>Suara sehalus sutra yang keluar dari bibir Raka tetap membangunkan Nala. Alergi pada anak itu tidak separah sebelumnya. Wajahnya tak lagi bengkak, napasnya sudah teratur dengan tenggorokan yang mungkin masih sedikit sakit. Itu sebabnya, suara Nala masih terdengar serak.</p>

<p>“Bang ....”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“Maro Akak mana ....”</p>

<p>“Kak Maro kerja, Dek. Kan Adek tahu kalau Kak Maro selalu kerja setiap hari, ndee?”</p>

<p>Walaupun bibir mengerucut lucu, Nala tetap mengangguk. Matanya sayu menatap netra Raka. Terlihat lemas. “Ucap terima kasih belum dari kemarin-kemarin. Akak Maro tidak pulang, ya?”</p>

<p>Raka terdiam.</p>

<p>Jika ia menjawab jujur, pasti Nala akan lanjut bertanya ini-itu. Tidak akan selesai hingga Raka bisa menjanjikan kepulangan Maro—yang sayangnya, selain tidak bisa berbohong pada sang adik, Raka pun tidak bisa berjanji sebab ia sendiri juga belum tahu apakah Maro pulang atau tidak. Ego dan kemarahan Raka pun masih sebesar di hari ketika ia tahu Nala dilarikan ke rumah sakit.</p>

<p>“Adek kenapa selalu cari kak Maro? Adek gak suka ya kalau cuma ada abang yang di sini?” tanya Raka tanpa melepas pandangan dari sang adik. Tangannya merapikan rambut di dahi Nala. “Selalu inginnya kak Maro saja?”</p>

<p>Tanpa diduga, Nala langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap sang kakak, lalu lucunya, anak itu mengambil tangan Raka dan menepuk-nepuk pelan punggung tangan Raka.</p>

<p>“<em>No no no jealous no no no</em>. Bukan begitu, Abang .... Nala eum—cari akak karena, karena akak selalu gak ada ....”</p>

<p>Raka tersenyum dan menepuk pelan puncak kepala Nala. Ia mengerti dengan maksud anak itu. Lantas, Raka memilih duduk di samping adiknya. Memperhatikan beberapa detik wajah adiknya yang masih agak pucat, tetapi jauh lebih baik dari sebelumnya. Raka bernapas lega.</p>

<p>“Iya ... nanti, kalau kak Maro pulang, abang bilangin kalau Adek mau bilang makasih, ya?”</p>

<p>Mengangguk-angguk lucu dengan antusias, lantas Nala mengucap, “Makasih banyak-banyak <em>ndeee</em>, Abang! Nala sayang lebih besar Abang Raka <em>many-many more!</em>“</p>

<p>Raka tertawa. Dengan jahilnya ia mencubit pipi Nala karena gemas hingga anak itu protes.</p>

<p>Saat ini masih pukul sembilan pagi. Sarapan nasi goreng yang dibuat sudah habis—karena ia memang sengaja memasak dua porsi untuk dirinya dan juga Nala, sebab anak itu tadi belum bangun.</p>

<p>“Abang buatkan sarapan dulu, ya? Adek kalau ada apa-apa, nanti teriak yang keras, bisa?”</p>

<p>Bibir Nala melengkung ke bawah seperti anak kecil berumur dua tahun ketika hendak menangis. “<em>Ndak</em> bisa, ey .... Abang tahu sungguh Nala tenggorokan masih sakit ....”</p>

<p>Raka langsung tertawa lepas. Setiap sakit, Nala memang jauh lebih menggemaskan dan juga manja seperti anak kecil. “Iya, iya. Kalau begitu, Adek bisa turun ke bawah?”</p>

<p>“Bisa!” jawabnya semangat. “Eum ... Api—tapi, boleh ndak sedikit tidur lagi? Masih sisa-sisa mengantuknya, Abang ....”</p>

<p>“Oh ... masih sedikit mengantuk. Iya, begitu?”</p>

<p>“E-eum ...,” kata Nala sambil menguap kecil dan mengucek matanya.</p>

<p>Sungguh, Raka tidak pernah memandang adik-adiknya sebagai anak remaja berumur tujuh belas tahun. Lihat saja! Mana ada anak remaja tetapi begitu lucu dan menggemaskan seperti Nala?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://suniskie.writeas.com/sebuah-catatan-bq3s</guid>
      <pubDate>Sat, 02 Jul 2022 23:16:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Di tempat kerja Raka</title>
      <link>https://suniskie.writeas.com/di-tempat-kerja-raka?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sementara itu, di sisi lain, di sebuah pantry kantor di mana Raka berkerja, lelaki itu tercenung dalam beberapa saat. Terdiam menatap kosong pada sendok di tangannya, yang pada akhirnya ia taruh begitu saja di atas meja. !--more--&#xA;&#xA;Ketika Raka berbalik hendak kembali ke kubikel-nya, ia bertemu dengan Juan yang baru saja membuka pintu dan masuk ke dalam pantry. Lelaki bertubuh jangkung itu menatap Raka dengan kerut alis tajam. &#xA;&#xA;&#34;Ngapain lo di sana, Ka?&#34; tanya Juan. &#xA;&#xA;&#34;Bengong,&#34; jawabnya linglung.&#xA;&#xA;Juan makin bingung. Lelaki itu tampak menggeleng kepala heran dengan tingkah aneh temannya yang tiga bulan terkahir seringkali kedapatan tengah melamun, menatap kosong entah pada apa, atau terlihat diam memikirkan sesuatu begitu dalam. &#xA;&#xA;Ketika berbalik selepas menyeduh kopi, Juan masih mendapati Raka di tempat seperti sebelumnya. Lelaki dengan potongan rambut rapi dan berkulit kuning sawo itu tampaknya benar-benar melanjutkan sesi &#39;bengong&#39;-nya sejak tadi. &#xA;&#xA;&#34;Ck, ngapain sih lo bengang-bengong?&#34; Juan menepuk pundak Raka. &#34;Ayo, balik ke ruangan. Si boss mau ngajak kita ngomong katanya tadi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bentar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apaan?&#34; tanya Juan. &#34;Ngomong-ngomong, lo ke pantry ngapain dah? Buat kopi? Mana kopi lo? Udah habis?&#34; tanya lelaki itu dengan cerewet mencari-cari apa yang dilakukan temannya di pantry kantor. &#xA;&#xA;Raka menggeleng kepala. Alisnya mengerut, matanya yang agak kosong tampak mencari-cari sesuatu. Selain itu, Raka juga terlihat menggaruk pelipisnya (pertanda ia sedang berpikir keras) sebelum akhirnya mondar-mandir ke sana-kemari. &#xA;&#xA;&#34;Nyari apaansi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sendok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sendok apaan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gatau.&#34;&#xA;&#xA;Tahu-tahu Juan langsung menggeplak kepala Raka. Cukup kencang. Pasalnya, tidak satu dua kali Raka amat menyebalkan seperti saat ini. Dan anehnya, kali ini Raka tidak ngamuk sama sekali. Biasanya, lelaki itu pasti akan protes, bahkan menggeplak balik kepala Juan. Tapi, kali ini Raka justru semakin terlihat linglung dan tak membalas apa pun. &#xA;&#xA;&#34;Ih, anjing. Merinding gue.&#34; Juan bergidik ngeri memandang Raka. &#34;Lo kenapa sih? Kesurupan? Gak elit amat lo setan diem di pantry.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ck, apaansi? Gak jelas lu, Ju!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nah, gitu dong marah-marah. Baru namanya Raka, bukan mbah poci!&#34; kata Juan sambil menyengir dan merangkul Raka. Tetapi, tentu saja, Raka langsung melepaskan rangkulan itu. &#34;Yaudah, ayo balik ke ruangan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti dulu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;GUSTI NU AGUNG! Apaan lagi sih, Ka?! Gue tinggal dah ya. Daripada gue diamuk. Kalo gak, gue yang ngamok nih lo makin hari makin gak jelas!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ck elaah, tar dulu dong!&#34; protes Raka. &#xA;&#xA;&#34;Yaudah apaaaan?&#34; tanya Juan gemas. &#xA;&#xA;Sambil merenyit kebingungan, Raka celangak-celinguk. &#34;Ini tuh tadi gue ke sini mau ngapain sih?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, anjing! Lo beneran buat gue takut.&#34;&#xA;&#xA;Dan begitu saja, Juan langsung pergi meninggalkan Raka yang semakin kebingungan di tempatnnya. &#xA;&#xA;Semakin lama Raka berpikir keras apa tujuannya ke pantry, semakin sakit pula kepalanya berdenyut-denyut. Ia bahkan berjongkok dan menjambak rambutnya sendiri ketika sakit kepalanya semakin menjadi. Namun, Raka tidak bisa berhenti berpikir. Ia tidak suka dengan situasi &#39;tidak bisa mengingat apa pun&#39; seperti saat ini. Ia benci. Ia harus melawannya. &#xA;&#xA;Semakin ia lawan, semakin bergerak sebaliknya pula realita yang ada. &#xA;&#xA;Raka mengangkat kepala, menatap ke sekeliling, lalu bergumam, &#34;Ini balik ke ruangan ke mana ....&#34;&#xA;&#xA;to be continue... ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sementara itu, di sisi lain, di sebuah pantry kantor di mana Raka berkerja, lelaki itu tercenung dalam beberapa saat. Terdiam menatap kosong pada sendok di tangannya, yang pada akhirnya ia taruh begitu saja di atas meja. </p>

<p>Ketika Raka berbalik hendak kembali ke kubikel-nya, ia bertemu dengan Juan yang baru saja membuka pintu dan masuk ke dalam pantry. Lelaki bertubuh jangkung itu menatap Raka dengan kerut alis tajam.</p>

<p>“Ngapain lo di sana, Ka?” tanya Juan.</p>

<p>“Bengong,” jawabnya linglung.</p>

<p>Juan makin bingung. Lelaki itu tampak menggeleng kepala heran dengan tingkah aneh temannya yang tiga bulan terkahir seringkali kedapatan tengah melamun, menatap kosong entah pada apa, atau terlihat diam memikirkan sesuatu begitu dalam.</p>

<p>Ketika berbalik selepas menyeduh kopi, Juan masih mendapati Raka di tempat seperti sebelumnya. Lelaki dengan potongan rambut rapi dan berkulit kuning sawo itu tampaknya benar-benar melanjutkan sesi &#39;bengong&#39;-nya sejak tadi.</p>

<p>“Ck, ngapain sih lo bengang-bengong?” Juan menepuk pundak Raka. “Ayo, balik ke ruangan. Si boss mau ngajak kita ngomong katanya tadi.”</p>

<p>“Bentar.”</p>

<p>“Apaan?” tanya Juan. “Ngomong-ngomong, lo ke pantry ngapain dah? Buat kopi? Mana kopi lo? Udah habis?” tanya lelaki itu dengan cerewet mencari-cari apa yang dilakukan temannya di pantry kantor.</p>

<p>Raka menggeleng kepala. Alisnya mengerut, matanya yang agak kosong tampak mencari-cari sesuatu. Selain itu, Raka juga terlihat menggaruk pelipisnya (pertanda ia sedang berpikir keras) sebelum akhirnya mondar-mandir ke sana-kemari.</p>

<p>“Nyari apaansi?”</p>

<p>“Sendok.”</p>

<p>“Sendok apaan?”</p>

<p>“Gatau.”</p>

<p>Tahu-tahu Juan langsung menggeplak kepala Raka. Cukup kencang. Pasalnya, tidak satu dua kali Raka amat menyebalkan seperti saat ini. Dan anehnya, kali ini Raka tidak ngamuk sama sekali. Biasanya, lelaki itu pasti akan protes, bahkan menggeplak balik kepala Juan. Tapi, kali ini Raka justru semakin terlihat linglung dan tak membalas apa pun.</p>

<p>“Ih, anjing. Merinding gue.” Juan bergidik ngeri memandang Raka. “Lo kenapa sih? Kesurupan? Gak elit amat lo setan diem di pantry.”</p>

<p>“Ck, apaansi? Gak jelas lu, Ju!”</p>

<p>“Nah, gitu dong marah-marah. Baru namanya Raka, bukan mbah poci!” kata Juan sambil menyengir dan merangkul Raka. Tetapi, tentu saja, Raka langsung melepaskan rangkulan itu. “Yaudah, ayo balik ke ruangan.”</p>

<p>“Nanti dulu.”</p>

<p>“GUSTI NU AGUNG! Apaan lagi sih, Ka?! Gue tinggal dah ya. Daripada gue diamuk. Kalo gak, gue yang ngamok nih lo makin hari makin gak jelas!”</p>

<p>“Ck elaah, tar dulu dong!” protes Raka.</p>

<p>“Yaudah apaaaan?” tanya Juan gemas.</p>

<p>Sambil merenyit kebingungan, Raka celangak-celinguk. “Ini tuh tadi gue ke sini mau ngapain sih?”</p>

<p>“Ah, anjing! Lo beneran buat gue takut.”</p>

<p>Dan begitu saja, Juan langsung pergi meninggalkan Raka yang semakin kebingungan di tempatnnya.</p>

<p>Semakin lama Raka berpikir keras apa tujuannya ke pantry, semakin sakit pula kepalanya berdenyut-denyut. Ia bahkan berjongkok dan menjambak rambutnya sendiri ketika sakit kepalanya semakin menjadi. Namun, Raka tidak bisa berhenti berpikir. Ia tidak suka dengan situasi &#39;tidak bisa mengingat apa pun&#39; seperti saat ini. Ia benci. Ia harus melawannya.</p>

<p>Semakin ia lawan, semakin bergerak sebaliknya pula realita yang ada.</p>

<p>Raka mengangkat kepala, menatap ke sekeliling, lalu bergumam, “Ini balik ke ruangan ke mana ....”</p>

<h6 id="to-be-continue" id="to-be-continue">to be continue...</h6>
]]></content:encoded>
      <guid>https://suniskie.writeas.com/di-tempat-kerja-raka</guid>
      <pubDate>Thu, 30 Jun 2022 23:50:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Deg-degan</title>
      <link>https://suniskie.writeas.com/deg-degan-2py1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Nara menghela napasnya pelan. Sesaat kemudian, ia membuang wajah ke arah jendela mobil melihat jalanan yang penuh sesak seperti dadanya. Mata gadis itu sebetulnya berair, menahan tangis yang ia janjikan agar tumpah ruah jika memang Nono datang di sisinya. !--more--&#xA;&#xA;Bukan tanpa sebab Nara pada akhirnya benar-benar menunggu Nono untuk bisa menangis. Sebab, hanya lelaki itu yang bisa menjadi tempatnya untuk menangis tanpa malu dan takut Nono mengadu pada Abang Raka seperti Pak Sal. Bisa terlalu panjang dan ruwet jika Abang Raka sampai tahu penyebab dirinya menangis. &#xA;&#xA;&#34;Waduh, ini sih bisa lama Non sampai di sekolahnya Mas Nala,&#34; celetuk Pak Sal yang tampaknya frustrasi sebab laju mobil begitu sedikit-sedikit karena macet. &#xA;&#xA;Nara menoleh setelah ibu jarinya menyeka ujung matanya. Gadis itu melongok ke depan. Tak ada pergerakan sama sekali. Acara pernikahan tampaknya begitu mempengaruhi jalanan hingga mobil yang membawa mereka ke sekolah Nala benar-benar tidak bisa maju maupun putar balik. &#xA;&#xA;&#34;Yaudah. Gapapa, Pak Sal. Mau bagaimana lagi kan ...,&#34; keluh Nara agak pasrah. &#34;Aku telepon mas Nala dulu, biar mas diam di dalam kelas aja kali ya, Pak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh tuh, Non. Tapi, Mas Nala kalau sudah jam pulang kan biasanya enggak mau menunggu di dalam kelas, Non. Susah kalau alasannya bukan karena hujan,&#34; kata Pak Sal. &#xA;&#xA;Nara mengerjap. Benar juga. Nala tipe anak yang agak susah untuk menunggu di dalam kelas jika ia sudah mendengar bel pulang berdering. Hanya ada satu alasan Nala bisa tinggal beberapa saat di dalam kelas setelah bel pulang berbunyi, yaitu hujan. Dan hari ini, matahari begitu cerah juga terik hingga ac dalam mobil tidak terasa dingin. Mustahil jika tiba-tiba turun hujan.&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, aku telepon Nono aja deh, Pak.&#34;&#xA;&#xA;Belum sempat Pak Sal bertanya, Nara sudah menempelkan ponselnya ke telinga kanan sambil menggigit kuku jari. Kemudian, pada deringan kelima, panggilan telepon itu terangkat dari seberang. &#xA;&#xA;&#34;Password menelepon Nono?&#34;&#xA;&#xA;Nara memutar bola matanya jengah searah jarum jam. Dengan malas ia menjawab, &#34;Nara&#39;s here! Halo Nono si Paling Keren Anak Bapak Muh!&#34;&#xA;&#xA;Di balik telepon itu, terdengar suara tawa renyah Nono. &#34;Good girl! Ada apa, Nara? Nono baru setengah jalan. Udah gak kuat ya mau nangis? Nangis aja. Apa mau ditemenin sambil telepon gini?&#34;&#xA;&#xA;Nara melirik Pak Sal, memastikan pria berumur itu tidak mendengar ucapan Nono barusan. &#34;Bukan itu ih!&#34; Nono terdengar tertawa lagi mendengar omelan rajuk Nara. &#34;Aku mau minta tolong, No. Aku sama Pak Sal betul-betul kejebak macet. Kalau kamu udah sampai, langsung cari dan temani Mas Nala, ya? Kelas tembikar biasanya pas pulang gak ada guru yang menemani. Aku takut Mas Nala ketakutan dan nangis kalau aku sama Pak Sal belum datang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oooh! Siap! Itu mah udah pasti kok Nono si Anak Keren ini menemani Mas Komandan Nala langsung. Tenang aja, Nara .... Komandan Nala aman bersamaku!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke. Terima kasih, Nono.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama-sama, Cantik!&#34;&#xA;&#xA;Wajah Nara langsung terasa panas. Pipinya memerah seperti tomat dengan lengkung senyum yang begitu sulit ditahan. Akhir-akhir ini pula, degup jantung Nara suka berdegup cepat ketika Nono melemparkan ucapan-ucapan seperti itu. Ia bahkan lupa bahwa beberapa saat lalu, dirinya tengah menahan tangis akan hal yang menyedihkan. &#xA;&#xA;Saking malu-nya, Nara langsung mematikan teleponnya. Itu membuat Pak Sal merenyit bingung. &#34;Kenapa, Non?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Deg-degan, Pak Sal,&#34; jawabnya dengan jujur. &#xA;&#xA;Pak Sal tersenyum penuh arti sambil menggeleng kepala. &#xA;&#xA;copyrights © 2022 by Suniskie. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Nara menghela napasnya pelan. Sesaat kemudian, ia membuang wajah ke arah jendela mobil melihat jalanan yang penuh sesak seperti dadanya. Mata gadis itu sebetulnya berair, menahan tangis yang ia janjikan agar tumpah ruah jika memang Nono datang di sisinya. </p>

<p>Bukan tanpa sebab Nara pada akhirnya benar-benar menunggu Nono untuk bisa menangis. Sebab, hanya lelaki itu yang bisa menjadi tempatnya untuk menangis tanpa malu dan takut Nono mengadu pada Abang Raka seperti Pak Sal. Bisa terlalu panjang dan ruwet jika Abang Raka sampai tahu penyebab dirinya menangis.</p>

<p>“Waduh, ini sih bisa lama Non sampai di sekolahnya Mas Nala,” celetuk Pak Sal yang tampaknya frustrasi sebab laju mobil begitu sedikit-sedikit karena macet.</p>

<p>Nara menoleh setelah ibu jarinya menyeka ujung matanya. Gadis itu melongok ke depan. Tak ada pergerakan sama sekali. Acara pernikahan tampaknya begitu mempengaruhi jalanan hingga mobil yang membawa mereka ke sekolah Nala benar-benar tidak bisa maju maupun putar balik.</p>

<p>“Yaudah. Gapapa, Pak Sal. Mau bagaimana lagi kan ...,” keluh Nara agak pasrah. “Aku telepon mas Nala dulu, biar mas diam di dalam kelas aja kali ya, Pak?”</p>

<p>“Boleh tuh, Non. Tapi, Mas Nala kalau sudah jam pulang kan biasanya enggak mau menunggu di dalam kelas, Non. Susah kalau alasannya bukan karena hujan,” kata Pak Sal.</p>

<p>Nara mengerjap. Benar juga. Nala tipe anak yang agak susah untuk menunggu di dalam kelas jika ia sudah mendengar bel pulang berdering. Hanya ada satu alasan Nala bisa tinggal beberapa saat di dalam kelas setelah bel pulang berbunyi, yaitu hujan. Dan hari ini, matahari begitu cerah juga terik hingga ac dalam mobil tidak terasa dingin. Mustahil jika tiba-tiba turun hujan.</p>

<p>“Kalau begitu, aku telepon Nono aja deh, Pak.”</p>

<p>Belum sempat Pak Sal bertanya, Nara sudah menempelkan ponselnya ke telinga kanan sambil menggigit kuku jari. Kemudian, pada deringan kelima, panggilan telepon itu terangkat dari seberang.</p>

<p>“Password menelepon Nono?”</p>

<p>Nara memutar bola matanya jengah searah jarum jam. Dengan malas ia menjawab, “Nara&#39;s here! Halo Nono si Paling Keren Anak Bapak Muh!”</p>

<p>Di balik telepon itu, terdengar suara tawa renyah Nono. “Good girl! Ada apa, Nara? Nono baru setengah jalan. Udah gak kuat ya mau nangis? Nangis aja. Apa mau ditemenin sambil telepon gini?”</p>

<p>Nara melirik Pak Sal, memastikan pria berumur itu tidak mendengar ucapan Nono barusan. “Bukan itu ih!” Nono terdengar tertawa lagi mendengar omelan rajuk Nara. “Aku mau minta tolong, No. Aku sama Pak Sal betul-betul kejebak macet. Kalau kamu udah sampai, langsung cari dan temani Mas Nala, ya? Kelas tembikar biasanya pas pulang gak ada guru yang menemani. Aku takut Mas Nala ketakutan dan nangis kalau aku sama Pak Sal belum datang.”</p>

<p>“Oooh! Siap! Itu mah udah pasti kok Nono si Anak Keren ini menemani Mas Komandan Nala langsung. Tenang aja, Nara .... Komandan Nala aman bersamaku!”</p>

<p>“Oke. Terima kasih, Nono.”</p>

<p>“Sama-sama, Cantik!”</p>

<p>Wajah Nara langsung terasa panas. Pipinya memerah seperti tomat dengan lengkung senyum yang begitu sulit ditahan. Akhir-akhir ini pula, degup jantung Nara suka berdegup cepat ketika Nono melemparkan ucapan-ucapan seperti itu. Ia bahkan lupa bahwa beberapa saat lalu, dirinya tengah menahan tangis akan hal yang menyedihkan.</p>

<p>Saking malu-nya, Nara langsung mematikan teleponnya. Itu membuat Pak Sal merenyit bingung. “Kenapa, Non?”</p>

<p>“Deg-degan, Pak Sal,” jawabnya dengan jujur.</p>

<p>Pak Sal tersenyum penuh arti sambil menggeleng kepala.</p>

<h6 id="copyrights-2022-by-suniskie" id="copyrights-2022-by-suniskie">copyrights © 2022 by Suniskie.</h6>
]]></content:encoded>
      <guid>https://suniskie.writeas.com/deg-degan-2py1</guid>
      <pubDate>Mon, 13 Jun 2022 10:39:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Deg-degan</title>
      <link>https://suniskie.writeas.com/deg-degan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Nara menghela napasnya pelan. Sesaat kemudian, ia membuang wajah ke arah jendela mobil melihat jalanan yang penuh sesak seperti dadanya. Mata gadis itu sebetulnya berair, menahan tangis yang ia janjikan agar tumpah ruah jika memang Nono datang di sisinya. !--more--&#xA;&#xA;Bukan tanpa sebab Nara pada akhirnya benar-benar menunggu Nono untuk bisa menangis. Sebab, hanya lelaki itu yang bisa menjadi tempatnya untuk menangis tanpa malu dan takut Nono mengadu pada Abang Raka seperti Pak Sal. Bisa terlalu panjang dan ruwet jika Abang Raka sampai tahu penyebab dirinya menangis. &#xA;&#xA;&#34;Waduh, ini sih bisa lama Non sampai di sekolahnya Mas Nala,&#34; celetuk Pak Sal yang tampaknya frustrasi sebab laju mobil begitu sedikit-sedikit karena macet. &#xA;&#xA;Nara menoleh setelah ibu jarinya menyeka ujung matanya. Gadis itu melongok ke depan. Tak ada pergerakan sama sekali. Acara pernikahan tampaknya begitu mempengaruhi jalanan hingga mobil yang membawa mereka ke sekolah Nala benar-benar tidak bisa maju maupun putar balik. &#xA;&#xA;&#34;Yaudah. Gapapa, Pak Sal. Mau bagaimana lagi kan ...,&#34; keluh Nara agak pasrah. &#34;Aku telepon mas Nala dulu, biar mas diam di dalam kelas aja kali ya, Pak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh tuh, Non. Tapi, Mas Nala kalau sudah jam pulang kan biasanya enggak mau menunggu di dalam kelas, Non. Susah kalau alasannya bukan karena hujan,&#34; kata Pak Sal. &#xA;&#xA;Nara mengerjap. Benar juga. Nala tipe anak yang agak susah untuk menunggu di dalam kelas jika ia sudah mendengar bel pulang berdering. Hanya ada satu alasan Nala bisa tinggal beberapa saat di dalam kelas setelah bel pulang berbunyi, yaitu hujan. Dan hari ini, matahari begitu cerah juga terik hingga ac dalam mobil tidak terasa dingin. Mustahil jika tiba-tiba turun hujan.&#xA;&#xA;&#34;Kalau begitu, aku telepon Nono aja deh, Pak.&#34;&#xA;&#xA;Belum sempat Pak Sal bertanya, Nara sudah menempelkan ponselnya ke telinga kanan sambil menggigit kuku jari. Kemudian, pada deringan kelima, panggilan telepon itu terangkat dari seberang. &#xA;&#xA;&#34;Password menelepon Nono?&#34;&#xA;&#xA;Nara memutar bola matanya jengah searah jarum jam. Dengan malas ia menjawab, &#34;Nara&#39;s here! Halo Nono si Paling Keren Anak Bapak Muh!&#34;&#xA;&#xA;Di balik telepon itu, terdengar suara tawa renyah Nono. &#34;Good girl! Ada apa, Nara? Nono baru setengah jalan. Udah gak kuat ya mau nangis? Nangis aja. Apa mau ditemenin sambil telepon gini?&#34;&#xA;&#xA;Nara melirik Pak Sal, memastikan pria berumur itu tidak mendengar ucapan Nono barusan. &#34;Bukan itu ih!&#34; Nono terdengar tertawa lagi mendengar omelan rajuk Nara. &#34;Aku mau minta tolong, No. Aku sama Pak Sal betul-betul kejebak macet. Kalau kamu udah sampai, langsung cari dan temani Mas Nala, ya? Kelas tembikar biasanya pas pulang gak ada guru yang menemani. Aku takut Mas Nala ketakutan dan nangis kalau aku sama Pak Sal belum datang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oooh! Siap! Itu mah udah pasti kok Nono si Anak Keren ini menemani Mas Komandan Nala langsung. Tenang aja, Nara .... Komandan Nala aman bersamaku!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke. Terima kasih, Nono.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sama-sama, Cantik!&#34;&#xA;&#xA;Wajah Nara langsung terasa panas. Pipinya memerah seperti tomat dengan lengkung senyum yang begitu sulit ditahan. Akhir-akhir ini pula, degup jantung Nara suka berdegup cepat ketika Nono melemparkan ucapan-ucapan seperti itu. Ia bahkan lupa bahwa beberapa saat lalu, dirinya tengah menahan tangis akan hal yang menyedihkan. &#xA;&#xA;Saking malu-nya, Nara langsung mematikan teleponnya. Itu membuat Pak Sal merenyit bingung. &#34;Kenapa, Non?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Deg-degan, Pak Sal,&#34; jawabnya dengan jujur. &#xA;&#xA;Pak Sal tersenyum penuh arti sambil menggeleng kepala. &#xA;&#xA;copyrights 2020 © by Suniskie. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Nara menghela napasnya pelan. Sesaat kemudian, ia membuang wajah ke arah jendela mobil melihat jalanan yang penuh sesak seperti dadanya. Mata gadis itu sebetulnya berair, menahan tangis yang ia janjikan agar tumpah ruah jika memang Nono datang di sisinya. </p>

<p>Bukan tanpa sebab Nara pada akhirnya benar-benar menunggu Nono untuk bisa menangis. Sebab, hanya lelaki itu yang bisa menjadi tempatnya untuk menangis tanpa malu dan takut Nono mengadu pada Abang Raka seperti Pak Sal. Bisa terlalu panjang dan ruwet jika Abang Raka sampai tahu penyebab dirinya menangis.</p>

<p>“Waduh, ini sih bisa lama Non sampai di sekolahnya Mas Nala,” celetuk Pak Sal yang tampaknya frustrasi sebab laju mobil begitu sedikit-sedikit karena macet.</p>

<p>Nara menoleh setelah ibu jarinya menyeka ujung matanya. Gadis itu melongok ke depan. Tak ada pergerakan sama sekali. Acara pernikahan tampaknya begitu mempengaruhi jalanan hingga mobil yang membawa mereka ke sekolah Nala benar-benar tidak bisa maju maupun putar balik.</p>

<p>“Yaudah. Gapapa, Pak Sal. Mau bagaimana lagi kan ...,” keluh Nara agak pasrah. “Aku telepon mas Nala dulu, biar mas diam di dalam kelas aja kali ya, Pak?”</p>

<p>“Boleh tuh, Non. Tapi, Mas Nala kalau sudah jam pulang kan biasanya enggak mau menunggu di dalam kelas, Non. Susah kalau alasannya bukan karena hujan,” kata Pak Sal.</p>

<p>Nara mengerjap. Benar juga. Nala tipe anak yang agak susah untuk menunggu di dalam kelas jika ia sudah mendengar bel pulang berdering. Hanya ada satu alasan Nala bisa tinggal beberapa saat di dalam kelas setelah bel pulang berbunyi, yaitu hujan. Dan hari ini, matahari begitu cerah juga terik hingga ac dalam mobil tidak terasa dingin. Mustahil jika tiba-tiba turun hujan.</p>

<p>“Kalau begitu, aku telepon Nono aja deh, Pak.”</p>

<p>Belum sempat Pak Sal bertanya, Nara sudah menempelkan ponselnya ke telinga kanan sambil menggigit kuku jari. Kemudian, pada deringan kelima, panggilan telepon itu terangkat dari seberang.</p>

<p>“Password menelepon Nono?”</p>

<p>Nara memutar bola matanya jengah searah jarum jam. Dengan malas ia menjawab, “Nara&#39;s here! Halo Nono si Paling Keren Anak Bapak Muh!”</p>

<p>Di balik telepon itu, terdengar suara tawa renyah Nono. “Good girl! Ada apa, Nara? Nono baru setengah jalan. Udah gak kuat ya mau nangis? Nangis aja. Apa mau ditemenin sambil telepon gini?”</p>

<p>Nara melirik Pak Sal, memastikan pria berumur itu tidak mendengar ucapan Nono barusan. “Bukan itu ih!” Nono terdengar tertawa lagi mendengar omelan rajuk Nara. “Aku mau minta tolong, No. Aku sama Pak Sal betul-betul kejebak macet. Kalau kamu udah sampai, langsung cari dan temani Mas Nala, ya? Kelas tembikar biasanya pas pulang gak ada guru yang menemani. Aku takut Mas Nala ketakutan dan nangis kalau aku sama Pak Sal belum datang.”</p>

<p>“Oooh! Siap! Itu mah udah pasti kok Nono si Anak Keren ini menemani Mas Komandan Nala langsung. Tenang aja, Nara .... Komandan Nala aman bersamaku!”</p>

<p>“Oke. Terima kasih, Nono.”</p>

<p>“Sama-sama, Cantik!”</p>

<p>Wajah Nara langsung terasa panas. Pipinya memerah seperti tomat dengan lengkung senyum yang begitu sulit ditahan. Akhir-akhir ini pula, degup jantung Nara suka berdegup cepat ketika Nono melemparkan ucapan-ucapan seperti itu. Ia bahkan lupa bahwa beberapa saat lalu, dirinya tengah menahan tangis akan hal yang menyedihkan.</p>

<p>Saking malu-nya, Nara langsung mematikan teleponnya. Itu membuat Pak Sal merenyit bingung. “Kenapa, Non?”</p>

<p>“Deg-degan, Pak Sal,” jawabnya dengan jujur.</p>

<p>Pak Sal tersenyum penuh arti sambil menggeleng kepala.</p>

<h6 id="copyrights-2020-by-suniskie" id="copyrights-2020-by-suniskie">copyrights 2020 © by Suniskie.</h6>
]]></content:encoded>
      <guid>https://suniskie.writeas.com/deg-degan</guid>
      <pubDate>Mon, 13 Jun 2022 10:38:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>I Would Die for You. </title>
      <link>https://suniskie.writeas.com/i-would-die-for-you-hncw?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Cosmic radiation&#xA;&#xA;&#34;I can&#39;t take this pain forever.&#34;&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Dia bilang seperti itu setelah Kyana membawanya masuk ke dalam apartemennya. Lelaki itu setengah mabuk dengan mata sedikit sayu dan wajah memerah. &#xA;&#xA;Entah apa yang membuatnya dalam keadaan seperti itu untuk mengunjungi Kyana. Gadis itu juga tidak bisa menolaknya, sebab, itu adalah Mark. Orang yang selama ini telah menjadi tempatnya berkeluh-kesah. &#xA;&#xA;Mark duduk pada salah satu kursi di pantri. Dia sedikit menunduk, mencoba mengenyahkan pening di kepalanya. Kyana mendekatinya, memberikannya sekaleng susu dan semangkuk sup hangat serta obat pereda pengar. &#xA;&#xA;&#34;Gue nggak mabuk, Kyana,&#34; kata lelaki itu. &#xA;&#xA;Kyana mendengus seraya melirik pada jarum jam yang menginjak angka dua. &#xA;&#xA;&#34;Nggak mabuk,&#34; ulangnya mengejek, &#34;kata orang yang hampir aja jatuh sempoyongan,&#34; dumalnya. &#xA;&#xA;Anehnya, Mark justru terkekeh dengan senyum kecilnya yang terbit. Kedua lensa mata obsidian itu menatap lurus pada Kyana. &#34;Seriously, Kyana. I can&#39;t take this pain forever.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pain of what?&#34;&#xA;&#xA;Mark sempat tergugu. Namun, matanya bergerak mengikuti lensa Kyana yang mencoba berlari untuk tak menatap lelaki itu. &#34;The feeling I&#39;m goin&#39; through.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, gue ngerti. Jadi, lo lagi cari cara untuk articulate your feelings?&#34; tanya Kyana, dan Mark mengangguk lesu. &#xA;&#xA;&#34;But,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa lagi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Susah, Kya. It&#39;s too hard for me to communicate the thoughts that I hold, Kyana.&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu menghela napas, tetap mencoba tak menatap Mark. &#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;See it in your eyes. You hate that you want me.&#34;&#xA;&#xA;Dia tertawa. &#34;Ngaco, lo!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue serius, Kyana.&#34;&#xA;&#xA;Tawanya lenyap digantikan wajah keterkejutan yang perlahan berubah serius. &#34;Lo tahu alasannya, Mark. Semuanya nggak semudah itu.&#34;&#xA;&#xA;Mata Mark tetap mencoba menatap ke arah Kyana, dia mengangkat tangannya dan menyentuh dagu gadis itu untuk membalas tatapannya seraya memajukan tubuh mendekatinya. &#34;Gue ngerti and I&#39;ve tried to find reason to pull us apart,&#34; Lelaki itu menggeleng lesu. &#34;It ain&#39;t working.&#34;&#xA;&#xA;Wajah mereka kian mendekat hingga Kyana menahan napasnya. Mark kini mampu menatap lensa cokelat hangat itu dari dekat. Ia tersenyum manis, seolah balasan tatapan Kyana turut melembut memeluknya dengan hangat. Tatapan Mark turun, pada bibir ranum semerah rubi di hadapannya. Embusan mereka hampir menyatu. Namun, Mark buru-buru melengos menjatuhkan keningnya pada pundak Kyana. &#xA;&#xA;&#34;Mark?&#34; Lelaki itu membalasnya dengan bergumam berat. &#34;Hm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;The distance and the time between us—&#34;&#xA;&#xA;Mark mengangkat kepala. Bibirnya ia dekatkan pada daun telinga Kyana dan berbisik, &#34;It&#39;ll never change my mind, &#39;cause baby I just want you, and would die for you,&#34; ucapnya sebelum ia memberikan ribuan kupu-kupu pada perut Kyana melalui ciumannya yang lembut di atas bibirnya. &#xA;end.&#xA;&#xA;copyright © 2022 by suniskie. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://www.linkpicture.com/q/0ed11ecb72fa10f0a24728afd94982c7.jpg" alt="Cosmic radiation"/></p>

<p><em>“I can&#39;t take this pain forever.”</em></p>



<p>Dia bilang seperti itu setelah Kyana membawanya masuk ke dalam apartemennya. Lelaki itu setengah mabuk dengan mata sedikit sayu dan wajah memerah.</p>

<p>Entah apa yang membuatnya dalam keadaan seperti itu untuk mengunjungi Kyana. Gadis itu juga tidak bisa menolaknya, sebab, itu adalah Mark. Orang yang selama ini telah menjadi tempatnya berkeluh-kesah.</p>

<p>Mark duduk pada salah satu kursi di pantri. Dia sedikit menunduk, mencoba mengenyahkan pening di kepalanya. Kyana mendekatinya, memberikannya sekaleng susu dan semangkuk sup hangat serta obat pereda pengar.</p>

<p>“Gue nggak mabuk, Kyana,” kata lelaki itu.</p>

<p>Kyana mendengus seraya melirik pada jarum jam yang menginjak angka dua.</p>

<p>“Nggak mabuk,” ulangnya mengejek, “kata orang yang hampir aja jatuh sempoyongan,” dumalnya.</p>

<p>Anehnya, Mark justru terkekeh dengan senyum kecilnya yang terbit. Kedua lensa mata obsidian itu menatap lurus pada Kyana. “<em>Seriously</em>, Kyana. <em>I can&#39;t take this pain forever</em>.”</p>

<p><em>“Pain of what?”</em></p>

<p>Mark sempat tergugu. Namun, matanya bergerak mengikuti lensa Kyana yang mencoba berlari untuk tak menatap lelaki itu. <em>“The feeling I&#39;m goin&#39; through.”</em></p>

<p>“Oh, gue ngerti. Jadi, lo lagi cari cara untuk articulate your feelings?” tanya Kyana, dan Mark mengangguk lesu.</p>

<p><em>“But,”</em></p>

<p>“Kenapa lagi?”</p>

<p>“Susah, Kya. <em>It&#39;s too hard for me to communicate the thoughts that I hold, Kyana</em>.”</p>

<p>Gadis itu menghela napas, tetap mencoba tak menatap Mark. “Kenapa?”</p>

<p><em>“See it in your eyes. You hate that you want me.”</em></p>

<p>Dia tertawa. “Ngaco, lo!”</p>

<p>“Gue serius, Kyana.”</p>

<p>Tawanya lenyap digantikan wajah keterkejutan yang perlahan berubah serius. “Lo tahu alasannya, Mark. Semuanya nggak semudah itu.”</p>

<p>Mata Mark tetap mencoba menatap ke arah Kyana, dia mengangkat tangannya dan menyentuh dagu gadis itu untuk membalas tatapannya seraya memajukan tubuh mendekatinya. “Gue ngerti <em>and I&#39;ve tried to find reason to pull us apart</em>,” Lelaki itu menggeleng lesu. “<em>It ain&#39;t working</em>.”</p>

<p>Wajah mereka kian mendekat hingga Kyana menahan napasnya. Mark kini mampu menatap lensa cokelat hangat itu dari dekat. Ia tersenyum manis, seolah balasan tatapan Kyana turut melembut memeluknya dengan hangat. Tatapan Mark turun, pada bibir ranum semerah rubi di hadapannya. Embusan mereka hampir menyatu. Namun, Mark buru-buru melengos menjatuhkan keningnya pada pundak Kyana.</p>

<p>“Mark?” Lelaki itu membalasnya dengan bergumam berat. “Hm?”</p>

<p><em>“The distance and the time between us—”</em></p>

<p>Mark mengangkat kepala. Bibirnya ia dekatkan pada daun telinga Kyana dan berbisik, <em>“It&#39;ll never change my mind, &#39;cause baby I just want you, and would die for you,”</em> ucapnya sebelum ia memberikan ribuan kupu-kupu pada perut Kyana melalui ciumannya yang lembut di atas bibirnya.
end.</p>

<h6 id="copyright-2022-by-suniskie" id="copyright-2022-by-suniskie">copyright © 2022 by suniskie.</h6>
]]></content:encoded>
      <guid>https://suniskie.writeas.com/i-would-die-for-you-hncw</guid>
      <pubDate>Tue, 24 May 2022 12:32:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Untuk Bulan, sang Lampu Malam</title>
      <link>https://suniskie.writeas.com/untuk-bulan-sang-lampu-malam-cww1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Cosmic radiation&#xA;&#xA;Kepada bulan, luka aku telah seluruhnya membiru.  !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Waktu berlalu. Mungkin saja segala hal yang ada di alam semesta sudah berjalan tak lagi bisa dihitung angka. Maka itulah, tak ada yang tahu kapan sang ratu malam lahir dan menangis untuk pertama kali. &#xA;&#xA;Pun denganku, matahari yang eksistensinya hampir menyerupai denganmu untuk menjadi lampu bumi. &#xA;&#xA;Kita sama-sama berkelana mengarungi jagat hingga kemudian dikenal sebagai satelit. Manusia, makhluk di bumi menyebutnya begitu. Di segala tahun yang telah berlalu, mereka lebih mengagumi kamu, bulan. Begitu pun, denganku; matahari yang sekalipun eksistensinya sama, tapi tak pernah satu kali pun menggandeng telapak tangan dinginnya. &#xA;&#xA;Kata mereka, memang sampai kapanpun, jarak akan selalu membentang untuk memberi jeda agar tangan kami tak akan pernah bertaut. Tentu saja mereka begitu. Sebab, sekalipun aku sang raja siang, ratu malam yang dingin tetaplah menjadi yang paling dikagumi dan disembah. Mereka begitu protektif dan sayang padamu.  &#xA;&#xA;Pun denganku. Bulan, kamu tahu? Aku sempat marah pada mereka karena sangat melarangku berjumpa denganmu sebab dalih melindungi. &#xA;&#xA;Namun, kini, aku mengerti. Jarak di antara kita nyatanya sudah permanen. Tidak bisa diganggu gugat. Apalagi, negosiasi. &#xA;&#xA;Sebabnya, ini untukmu bulan. Si lampu malam. &#xA;&#xA;Bulan, kamu begitu cemerlang di seluruh langit, alam semesta, dan hal lain yang mungkin pernah ada. Begitu cerah, putih, dan tenang. Tak pantas aku yang menggebu-gebu, agresif, dan ramai yang menimbulkan umpatan mereka karena emosiku yang panas untuk bersanding denganmu yang jelita. Pantas mereka melarangku untukmu.&#xA;&#xA;Itu sebabnya, tak pernah sekalipun aku mampu berbincang denganmu, melemparkan goyonan jenaka yang dapat membuatmu terpingkal, atau menyatakan rasa yang terpaksa harus ditekan kehadirannya. &#xA;&#xA;Bulan, aku tenggelam tanpa sempat menyapamu. Kakiku yang belari padamu selalu lumpuh di tengah jalan, lalu benar-benar lenyap tak mampu memandangmu lagi. &#xA;&#xA;Semuanya selalu membiru, bulan; tentang keinginanku menggenggam tanganmu, tentang luka akan rasa yang harus segera ditiadakan. Padahal, mereka yang tak menginginkan &#39;kita&#39; ada selalu bilang bahwa cinta bergerak liar dan bebas tanpa perlu dihilangkan. &#xA;&#xA;copyrights © 2022 by Suniskie. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://www.linkpicture.com/q/c65a12d64cfb577c9522eebcc88b496c.jpg" alt="Cosmic radiation"/></p>

<p>Kepada bulan, luka aku telah seluruhnya membiru.  </p>

<hr/>

<p>Waktu berlalu. Mungkin saja segala hal yang ada di alam semesta sudah berjalan tak lagi bisa dihitung angka. Maka itulah, tak ada yang tahu kapan sang ratu malam lahir dan menangis untuk pertama kali.</p>

<p>Pun denganku, matahari yang eksistensinya hampir menyerupai denganmu untuk menjadi lampu bumi.</p>

<p>Kita sama-sama berkelana mengarungi jagat hingga kemudian dikenal sebagai satelit. Manusia, makhluk di bumi menyebutnya begitu. Di segala tahun yang telah berlalu, mereka lebih mengagumi kamu, bulan. Begitu pun, denganku; matahari yang sekalipun eksistensinya sama, tapi tak pernah satu kali pun menggandeng telapak tangan dinginnya.</p>

<p>Kata mereka, memang sampai kapanpun, jarak akan selalu membentang untuk memberi jeda agar tangan kami tak akan pernah bertaut. Tentu saja mereka begitu. Sebab, sekalipun aku sang raja siang, ratu malam yang dingin tetaplah menjadi yang paling dikagumi dan disembah. Mereka begitu protektif dan sayang padamu.</p>

<p>Pun denganku. Bulan, kamu tahu? Aku sempat marah pada mereka karena sangat melarangku berjumpa denganmu sebab dalih melindungi.</p>

<p>Namun, kini, aku mengerti. Jarak di antara kita nyatanya sudah permanen. Tidak bisa diganggu gugat. Apalagi, negosiasi.</p>

<p>Sebabnya, ini untukmu bulan. Si lampu malam.</p>

<p>Bulan, kamu begitu cemerlang di seluruh langit, alam semesta, dan hal lain yang mungkin pernah ada. Begitu cerah, putih, dan tenang. Tak pantas aku yang menggebu-gebu, agresif, dan ramai yang menimbulkan umpatan mereka karena emosiku yang panas untuk bersanding denganmu yang jelita. Pantas mereka melarangku untukmu.</p>

<p>Itu sebabnya, tak pernah sekalipun aku mampu berbincang denganmu, melemparkan goyonan jenaka yang dapat membuatmu terpingkal, atau menyatakan rasa yang terpaksa harus ditekan kehadirannya.</p>

<p>Bulan, aku tenggelam tanpa sempat menyapamu. Kakiku yang belari padamu selalu lumpuh di tengah jalan, lalu benar-benar lenyap tak mampu memandangmu lagi.</p>

<p>Semuanya selalu membiru, bulan; tentang keinginanku menggenggam tanganmu, tentang luka akan rasa yang harus segera ditiadakan. Padahal, mereka yang tak menginginkan &#39;kita&#39; ada selalu bilang bahwa cinta bergerak liar dan bebas tanpa perlu dihilangkan.</p>

<h6 id="copyrights-2022-by-suniskie" id="copyrights-2022-by-suniskie">copyrights © 2022 by Suniskie.</h6>
]]></content:encoded>
      <guid>https://suniskie.writeas.com/untuk-bulan-sang-lampu-malam-cww1</guid>
      <pubDate>Sun, 01 May 2022 07:09:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Day Dreaming </title>
      <link>https://suniskie.writeas.com/day-dreaming-pdpr?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;I used to meet you down on Dago&#39;s street two years ago. Remember you used a yellow shirt with smiley eyes when your gaze caught me so well. You shine like the sun when all the clouds are grey. It lights up my cold heart. !--more--&#xA;&#xA;You did your hair up like you&#39;re famous in a TV movie. I&#39;ve never thought that you&#39;d come to me. Breaking the silence and hearing your voice like a whisper. Suddenly, you said, you found a treasure just to look for a seat near me. I&#39;m still sober. You laugh like tomorrow will not come. I&#39;m still sober and started to think you&#39;re like the future. &#xA;&#xA;But wait, but wait, but wait. You&#39;ll be down if you&#39;re with me. The sun will get dark and no smile again. The love like this won&#39;t last forever. You&#39;ll be gone, it&#39;s as simple as a change of heart. &#xA;&#xA;copyrights © 2022 by Suniskie. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://www.linkpicture.com/q/0aa4e74b62d76b937983906fdb688fb3.jpg" alt=""/></p>

<p>I used to meet you down on Dago&#39;s street two years ago. Remember you used a yellow shirt with smiley eyes when your gaze caught me so well. You shine like the sun when all the clouds are grey. It lights up my cold heart. </p>

<p>You did your hair up like you&#39;re famous in a TV movie. I&#39;ve never thought that you&#39;d come to me. Breaking the silence and hearing your voice like a whisper. Suddenly, you said, you found a treasure just to look for a seat near me. I&#39;m still sober. You laugh like tomorrow will not come. I&#39;m still sober and started to think you&#39;re like the future.</p>

<p>But wait, but wait, but wait. You&#39;ll be down if you&#39;re with me. The sun will get dark and no smile again. The love like this won&#39;t last forever. You&#39;ll be gone, it&#39;s as simple as a change of heart.</p>

<h6 id="copyrights-2022-by-suniskie" id="copyrights-2022-by-suniskie">copyrights © 2022 by Suniskie.</h6>
]]></content:encoded>
      <guid>https://suniskie.writeas.com/day-dreaming-pdpr</guid>
      <pubDate>Sat, 30 Apr 2022 03:30:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Lover, Please Stay </title>
      <link>https://suniskie.writeas.com/lover-please-stay-dsz4?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;Apakah ada yang bisa digenggam dengan erat? !--more--&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Desember, 2014.&#xA;&#xA;Ada beberapa hal yang ternyata tidak bisa kugenggam dengan kuat. Salah satunya, ketika hari di salah satu bulan Desember kala itu. &#xA;&#xA;Rasanya, baru kemarin aku melihat jernih bola matanya ketika membalas tatapanku. Baru kemarin juga rasanya ketika ia menyentuh telapak tanganku, digenggamnya dengan erat serta hangat. Namun nyatanya, itu sudah tiga tahun berlalu. Tahun-tahun yang kulewati tanpa ada lagi raganya yang fana untuk kusentuh. &#xA;&#xA;&#34;Kalau kamu butuh aku, di sini, aku selalu ada.&#34;&#xA;&#xA;Katanya, seperti itu. Namun nyatanya, ketika aku memintanya menetap untuk kata selamanya, ia justru membalas; &#xA;&#xA;&#34;Aku harus ke sana. Pergi.&#34;&#xA;&#xA;Saat itu, tentu saja gejolak yang ada menyeruak keluar. Ulu hati yang ditikam menggonggong keras. Bertanya-tanya, sekiranya mengapa tempat yang sebelumnya menawarkan diri, justru menjadi hal yang paling dulu pergi?&#xA;&#xA;Apa yang salah? Di mana letak kesalahannya? &#xA;&#xA;Aku tidak mengerti. Lebih tepatnya, tidak ingin mencoba untuk mengerti. Semuanya terlalu abu. Untuk dikatakan mengerti, nyatanya tidak. Untuk dikatakan tidak, nyatanya dipaksa untuk mengerti. &#xA;&#xA;Lalu tanpa diduga, tiba-tiba saja, sebulan setelah itu, tepatnya Januari, ia memberi sebuah kabar yang disampaikan oleh koak burung gagak. Deburan laut yang kala itu kupandang, mendadak bergulung-gulung menyeramkan bersamaan dengan berita yang kuterima hari itu.&#xA;&#xA;Pamit yang seharusnya kuterima, justru terkubur bersamanya dalam enam kaki di bawah tanah. &#xA;&#xA;Aku pikir, genggamanku di bulan sebelumnya adalah genggaman sungguhan yang paling kuat. Benar-benar terkuat di dunia. Namun ternyata, tidak. Sebab hidup selalu memiliki fase terhebatnya, yaitu kematian. &#xA;&#xA;Meskipun kugenggam erat di dunia, itu tidak cukup. Karena dunia &#39;sana&#39; yang ia bilang, justru lebih kuat dari apa pun yang pernah ada. &#xA;&#xA;Dia yang menawarkan kata untuk selalu ada, kini menjadi kata yang menawarkan traumatis pahit akan kepergian. &#xA;&#xA;Kupikir, tiga tahun berlalu, sudah seharusnya aku menyambut kematiannya dengan baik. Tetapi pada nyatanya, tetap tidak bisa. &#xA;&#xA;Yang terus kupikirkan sejauh ini adalah kalimat yang seharusnnya membalas ucapannya untuk menahan dan tetap memintanya tinggal. &#xA;&#xA;&#34;Jangan pergi. Jangan kemana-mana. Sebab, entah bagaimana selanjutnya aku bisa menjalani hidup tanpa ada yang membalas genggamanku.&#34;&#xA;&#xA;copyrights © 2022 by Suniskie]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://www.linkpicture.com/q/cllcnw.jpg" alt=""/></p>

<p>Apakah ada yang bisa digenggam dengan erat? </p>

<hr/>

<p>Desember, 2014.</p>

<p>Ada beberapa hal yang ternyata tidak bisa kugenggam dengan kuat. Salah satunya, ketika hari di salah satu bulan Desember kala itu.</p>

<p>Rasanya, baru kemarin aku melihat jernih bola matanya ketika membalas tatapanku. Baru kemarin juga rasanya ketika ia menyentuh telapak tanganku, digenggamnya dengan erat serta hangat. Namun nyatanya, itu sudah tiga tahun berlalu. Tahun-tahun yang kulewati tanpa ada lagi raganya yang fana untuk kusentuh.</p>

<p>“Kalau kamu butuh aku, di sini, aku selalu ada.”</p>

<p>Katanya, seperti itu. Namun nyatanya, ketika aku memintanya menetap untuk kata selamanya, ia justru membalas;</p>

<p>“Aku harus ke sana. Pergi.”</p>

<p>Saat itu, tentu saja gejolak yang ada menyeruak keluar. Ulu hati yang ditikam menggonggong keras. Bertanya-tanya, sekiranya mengapa tempat yang sebelumnya menawarkan diri, justru menjadi hal yang paling dulu pergi?</p>

<p>Apa yang salah? Di mana letak kesalahannya?</p>

<p>Aku tidak mengerti. Lebih tepatnya, tidak ingin mencoba untuk mengerti. Semuanya terlalu abu. Untuk dikatakan mengerti, nyatanya tidak. Untuk dikatakan tidak, nyatanya dipaksa untuk mengerti.</p>

<p>Lalu tanpa diduga, tiba-tiba saja, sebulan setelah itu, tepatnya Januari, ia memberi sebuah kabar yang disampaikan oleh koak burung gagak. Deburan laut yang kala itu kupandang, mendadak bergulung-gulung menyeramkan bersamaan dengan berita yang kuterima hari itu.</p>

<p>Pamit yang seharusnya kuterima, justru terkubur bersamanya dalam enam kaki di bawah tanah.</p>

<p>Aku pikir, genggamanku di bulan sebelumnya adalah genggaman sungguhan yang paling kuat. Benar-benar terkuat di dunia. Namun ternyata, tidak. Sebab hidup selalu memiliki fase terhebatnya, yaitu kematian.</p>

<p>Meskipun kugenggam erat di dunia, itu tidak cukup. Karena dunia &#39;sana&#39; yang ia bilang, justru lebih kuat dari apa pun yang pernah ada.</p>

<p>Dia yang menawarkan kata untuk selalu ada, kini menjadi kata yang menawarkan traumatis pahit akan kepergian.</p>

<p>Kupikir, tiga tahun berlalu, sudah seharusnya aku menyambut kematiannya dengan baik. Tetapi pada nyatanya, tetap tidak bisa.</p>

<p>Yang terus kupikirkan sejauh ini adalah kalimat yang seharusnnya membalas ucapannya untuk menahan dan tetap memintanya tinggal.</p>

<p>“Jangan pergi. Jangan kemana-mana. Sebab, entah bagaimana selanjutnya aku bisa menjalani hidup tanpa ada yang membalas genggamanku.”</p>

<h6 id="copyrights-2022-by-suniskie" id="copyrights-2022-by-suniskie">copyrights © 2022 by Suniskie</h6>
]]></content:encoded>
      <guid>https://suniskie.writeas.com/lover-please-stay-dsz4</guid>
      <pubDate>Fri, 29 Apr 2022 22:56:57 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>