Deg-degan

Nara menghela napasnya pelan. Sesaat kemudian, ia membuang wajah ke arah jendela mobil melihat jalanan yang penuh sesak seperti dadanya. Mata gadis itu sebetulnya berair, menahan tangis yang ia janjikan agar tumpah ruah jika memang Nono datang di sisinya.

Bukan tanpa sebab Nara pada akhirnya benar-benar menunggu Nono untuk bisa menangis. Sebab, hanya lelaki itu yang bisa menjadi tempatnya untuk menangis tanpa malu dan takut Nono mengadu pada Abang Raka seperti Pak Sal. Bisa terlalu panjang dan ruwet jika Abang Raka sampai tahu penyebab dirinya menangis.

“Waduh, ini sih bisa lama Non sampai di sekolahnya Mas Nala,” celetuk Pak Sal yang tampaknya frustrasi sebab laju mobil begitu sedikit-sedikit karena macet.

Nara menoleh setelah ibu jarinya menyeka ujung matanya. Gadis itu melongok ke depan. Tak ada pergerakan sama sekali. Acara pernikahan tampaknya begitu mempengaruhi jalanan hingga mobil yang membawa mereka ke sekolah Nala benar-benar tidak bisa maju maupun putar balik.

“Yaudah. Gapapa, Pak Sal. Mau bagaimana lagi kan ...,” keluh Nara agak pasrah. “Aku telepon mas Nala dulu, biar mas diam di dalam kelas aja kali ya, Pak?”

“Boleh tuh, Non. Tapi, Mas Nala kalau sudah jam pulang kan biasanya enggak mau menunggu di dalam kelas, Non. Susah kalau alasannya bukan karena hujan,” kata Pak Sal.

Nara mengerjap. Benar juga. Nala tipe anak yang agak susah untuk menunggu di dalam kelas jika ia sudah mendengar bel pulang berdering. Hanya ada satu alasan Nala bisa tinggal beberapa saat di dalam kelas setelah bel pulang berbunyi, yaitu hujan. Dan hari ini, matahari begitu cerah juga terik hingga ac dalam mobil tidak terasa dingin. Mustahil jika tiba-tiba turun hujan.

“Kalau begitu, aku telepon Nono aja deh, Pak.”

Belum sempat Pak Sal bertanya, Nara sudah menempelkan ponselnya ke telinga kanan sambil menggigit kuku jari. Kemudian, pada deringan kelima, panggilan telepon itu terangkat dari seberang.

“Password menelepon Nono?”

Nara memutar bola matanya jengah searah jarum jam. Dengan malas ia menjawab, “Nara's here! Halo Nono si Paling Keren Anak Bapak Muh!”

Di balik telepon itu, terdengar suara tawa renyah Nono. “Good girl! Ada apa, Nara? Nono baru setengah jalan. Udah gak kuat ya mau nangis? Nangis aja. Apa mau ditemenin sambil telepon gini?”

Nara melirik Pak Sal, memastikan pria berumur itu tidak mendengar ucapan Nono barusan. “Bukan itu ih!” Nono terdengar tertawa lagi mendengar omelan rajuk Nara. “Aku mau minta tolong, No. Aku sama Pak Sal betul-betul kejebak macet. Kalau kamu udah sampai, langsung cari dan temani Mas Nala, ya? Kelas tembikar biasanya pas pulang gak ada guru yang menemani. Aku takut Mas Nala ketakutan dan nangis kalau aku sama Pak Sal belum datang.”

“Oooh! Siap! Itu mah udah pasti kok Nono si Anak Keren ini menemani Mas Komandan Nala langsung. Tenang aja, Nara .... Komandan Nala aman bersamaku!”

“Oke. Terima kasih, Nono.”

“Sama-sama, Cantik!”

Wajah Nara langsung terasa panas. Pipinya memerah seperti tomat dengan lengkung senyum yang begitu sulit ditahan. Akhir-akhir ini pula, degup jantung Nara suka berdegup cepat ketika Nono melemparkan ucapan-ucapan seperti itu. Ia bahkan lupa bahwa beberapa saat lalu, dirinya tengah menahan tangis akan hal yang menyedihkan.

Saking malu-nya, Nara langsung mematikan teleponnya. Itu membuat Pak Sal merenyit bingung. “Kenapa, Non?”

“Deg-degan, Pak Sal,” jawabnya dengan jujur.

Pak Sal tersenyum penuh arti sambil menggeleng kepala.

copyrights © 2022 by Suniskie.