suniskie

I was born to tell the stories.

Seraya menunggu sup ayam yang Raka buat mendidih dan matang untuk makan siang, lelaki itu memilih melipir sejenak ke kamarnya.

Ruangan tak terlalu luas itu bercahaya terang karena dua gorden besar telah disibak sejak subuh hingga cahaya mentari menembus masuk melalui kaca. Cat-nya sangat berwarna netral, putih. Langit-langitnya cukup tinggi dan dihiasi ornamen-ornamen kuning berbentuk awan. Itu bekas genangan air saat hujan. Tinggal menunggu waktunya air itu menembus dan membuat pasukan baskom siap untuk menampung bocorannya.

Raka menghela napas. Kamar itu entah mengapa kini terlalu kosong dan asing untuknya. Seringkali lelaki berpotongan rambut rapi itu merasa kamarnya berbeda. Entah apa. Raka tidak tahu. Namun, seolah-olah itu adalah ruangan yang berbeda, Raka kini masih berdiri di dekat pintu. Menghela napas lagi dengan pelan, lalu menatap sepenjuru ruangan.

Di salah satu sudut ruangan kamarnya, ada rak buku yang menjadi spot favorit-nya kala suntuk. Itu juga merupakan sudut favorit Nala ketika anak itu bertandang ke kamarnya.

Raka berjalan mendekati rak buku itu. Ia menyentuh buku-buku koleksinya seraya tersenyum saat selentingan ingatan mengingat bagaimana kesulitannya Nala ketika anak itu harus mengambil buku di jajaran rak paling atas.

Telling the truth,” gumam Raka ketika matanya menangkap buku bersampul kulit dengan sedikit sapuan warna jingga pudar.

Serat kulit di buku itu membuat Raka merenyitkan dahi. Terasa familiar, tetapi juga asing di waktu yang bersamaan. Tak menunggu waktu lama, Raka membuka tali pengikat buku itu dan langsung dihampiri tulisan rapi—tulisan tangannya sendiri—yang terdiri dari beberapa kalimat.

Lo pasti lupa lagi ini buku apaan. Kalau buka buku ini, harus diingat; ini buku harian lo, Raka.

Kerutan di dahi Raka semakin dalam dan menukik tajam. Lelaki itu menggaruk kecil pelipisnya yang mendadak gatal. Aneh sekali. Untuk apa ia menulis seperti itu di halaman pertama? Kenapa seolah-olah dia tahu bahwa Raka yang saat ini akan lupa mengenai apa isi buku itu?

“Ck. Buku apaan sih?” decak Raka heran. Lalu, ia menepuk dahinya dengan keras ketika terdengar suara air mendidih dan bau hangus secara bersamaan.

Raka lupa ia sedang memasak sup ayam!

Ini sudah dua hari Raka berada di rumah—dalam artian tidak berangkat kerja, tidak mengantar Nala sekolah, pun tidak bertemu dengan Maro yang menghilang selama dua hari ini.

Read more...

Sementara itu, di sisi lain, di sebuah pantry kantor di mana Raka berkerja, lelaki itu tercenung dalam beberapa saat. Terdiam menatap kosong pada sendok di tangannya, yang pada akhirnya ia taruh begitu saja di atas meja.

Read more...

Nara menghela napasnya pelan. Sesaat kemudian, ia membuang wajah ke arah jendela mobil melihat jalanan yang penuh sesak seperti dadanya. Mata gadis itu sebetulnya berair, menahan tangis yang ia janjikan agar tumpah ruah jika memang Nono datang di sisinya.

Read more...

Nara menghela napasnya pelan. Sesaat kemudian, ia membuang wajah ke arah jendela mobil melihat jalanan yang penuh sesak seperti dadanya. Mata gadis itu sebetulnya berair, menahan tangis yang ia janjikan agar tumpah ruah jika memang Nono datang di sisinya.

Read more...

Cosmic radiation

“I can't take this pain forever.”

Read more...

Cosmic radiation

Kepada bulan, luka aku telah seluruhnya membiru.

Read more...

I used to meet you down on Dago's street two years ago. Remember you used a yellow shirt with smiley eyes when your gaze caught me so well. You shine like the sun when all the clouds are grey. It lights up my cold heart.

Read more...

Apakah ada yang bisa digenggam dengan erat?

Read more...