Di tempat kerja Raka
Sementara itu, di sisi lain, di sebuah pantry kantor di mana Raka berkerja, lelaki itu tercenung dalam beberapa saat. Terdiam menatap kosong pada sendok di tangannya, yang pada akhirnya ia taruh begitu saja di atas meja.
Ketika Raka berbalik hendak kembali ke kubikel-nya, ia bertemu dengan Juan yang baru saja membuka pintu dan masuk ke dalam pantry. Lelaki bertubuh jangkung itu menatap Raka dengan kerut alis tajam.
“Ngapain lo di sana, Ka?” tanya Juan.
“Bengong,” jawabnya linglung.
Juan makin bingung. Lelaki itu tampak menggeleng kepala heran dengan tingkah aneh temannya yang tiga bulan terkahir seringkali kedapatan tengah melamun, menatap kosong entah pada apa, atau terlihat diam memikirkan sesuatu begitu dalam.
Ketika berbalik selepas menyeduh kopi, Juan masih mendapati Raka di tempat seperti sebelumnya. Lelaki dengan potongan rambut rapi dan berkulit kuning sawo itu tampaknya benar-benar melanjutkan sesi 'bengong'-nya sejak tadi.
“Ck, ngapain sih lo bengang-bengong?” Juan menepuk pundak Raka. “Ayo, balik ke ruangan. Si boss mau ngajak kita ngomong katanya tadi.”
“Bentar.”
“Apaan?” tanya Juan. “Ngomong-ngomong, lo ke pantry ngapain dah? Buat kopi? Mana kopi lo? Udah habis?” tanya lelaki itu dengan cerewet mencari-cari apa yang dilakukan temannya di pantry kantor.
Raka menggeleng kepala. Alisnya mengerut, matanya yang agak kosong tampak mencari-cari sesuatu. Selain itu, Raka juga terlihat menggaruk pelipisnya (pertanda ia sedang berpikir keras) sebelum akhirnya mondar-mandir ke sana-kemari.
“Nyari apaansi?”
“Sendok.”
“Sendok apaan?”
“Gatau.”
Tahu-tahu Juan langsung menggeplak kepala Raka. Cukup kencang. Pasalnya, tidak satu dua kali Raka amat menyebalkan seperti saat ini. Dan anehnya, kali ini Raka tidak ngamuk sama sekali. Biasanya, lelaki itu pasti akan protes, bahkan menggeplak balik kepala Juan. Tapi, kali ini Raka justru semakin terlihat linglung dan tak membalas apa pun.
“Ih, anjing. Merinding gue.” Juan bergidik ngeri memandang Raka. “Lo kenapa sih? Kesurupan? Gak elit amat lo setan diem di pantry.”
“Ck, apaansi? Gak jelas lu, Ju!”
“Nah, gitu dong marah-marah. Baru namanya Raka, bukan mbah poci!” kata Juan sambil menyengir dan merangkul Raka. Tetapi, tentu saja, Raka langsung melepaskan rangkulan itu. “Yaudah, ayo balik ke ruangan.”
“Nanti dulu.”
“GUSTI NU AGUNG! Apaan lagi sih, Ka?! Gue tinggal dah ya. Daripada gue diamuk. Kalo gak, gue yang ngamok nih lo makin hari makin gak jelas!”
“Ck elaah, tar dulu dong!” protes Raka.
“Yaudah apaaaan?” tanya Juan gemas.
Sambil merenyit kebingungan, Raka celangak-celinguk. “Ini tuh tadi gue ke sini mau ngapain sih?”
“Ah, anjing! Lo beneran buat gue takut.”
Dan begitu saja, Juan langsung pergi meninggalkan Raka yang semakin kebingungan di tempatnnya.
Semakin lama Raka berpikir keras apa tujuannya ke pantry, semakin sakit pula kepalanya berdenyut-denyut. Ia bahkan berjongkok dan menjambak rambutnya sendiri ketika sakit kepalanya semakin menjadi. Namun, Raka tidak bisa berhenti berpikir. Ia tidak suka dengan situasi 'tidak bisa mengingat apa pun' seperti saat ini. Ia benci. Ia harus melawannya.
Semakin ia lawan, semakin bergerak sebaliknya pula realita yang ada.
Raka mengangkat kepala, menatap ke sekeliling, lalu bergumam, “Ini balik ke ruangan ke mana ....”