Sebuah Catatan
Ini sudah dua hari Raka berada di rumah—dalam artian tidak berangkat kerja, tidak mengantar Nala sekolah, pun tidak bertemu dengan Maro yang menghilang selama dua hari ini.
Untuk yang satu itu, biarlah. Raka tidak peduli.
Semua rutinitas itu tidak berjalan baik, kecuali memaksa Nara untuk tetap sekolah kendati sang kakak masih dalam masa pemulihan. Anak gadis itu sempat menangis karena memohon untuk diizinkan tidak masuk sekolah sebab ingin menemani Nala hingga sembuh total. Tentu saja Raka tidak mengizinkannya.
Dan ini adalah dua hari lalu pula sejak hal yang ditakuti Raka terjadi—ia lengah mengawasi hal-hal yang dapat membahayakan adiknya.
Alergi kacang bukanlah suatu hal yang bisa dianggap sepele oleh orang yang memiliki alergi akut seperti Nala. Saat diceritakan oleh Nara, dia bilang Nala sudah dalam keadaan pingsan saat Maro datang dan langsung melarikannya ke rumah sakit. Wajah anak itu membengkak, merah. Tidak. Raka tidak bisa mengingat hal itu lagi. Menyakitkan untuknya.
“Akak ...,” Sudah dua hari ini pula Nala selalu mengingau saat tidur. Dan yang selalu disebut selalu orang yang sama. “Akak Maro ....”
Raka berjalan mendekati anak lelaki itu, lantas menekuk lutut di pinggir ranjang Nala. Ia usap dahi adiknya dengan pelan agar Nala tidak terlalu terganggu. “Ada apa ... Adek butuh apa? Bilang sama abang aja, ya?”
Suara sehalus sutra yang keluar dari bibir Raka tetap membangunkan Nala. Alergi pada anak itu tidak separah sebelumnya. Wajahnya tak lagi bengkak, napasnya sudah teratur dengan tenggorokan yang mungkin masih sedikit sakit. Itu sebabnya, suara Nala masih terdengar serak.
“Bang ....”
“Hm?”
“Maro Akak mana ....”
“Kak Maro kerja, Dek. Kan Adek tahu kalau Kak Maro selalu kerja setiap hari, ndee?”
Walaupun bibir mengerucut lucu, Nala tetap mengangguk. Matanya sayu menatap netra Raka. Terlihat lemas. “Ucap terima kasih belum dari kemarin-kemarin. Akak Maro tidak pulang, ya?”
Raka terdiam.
Jika ia menjawab jujur, pasti Nala akan lanjut bertanya ini-itu. Tidak akan selesai hingga Raka bisa menjanjikan kepulangan Maro—yang sayangnya, selain tidak bisa berbohong pada sang adik, Raka pun tidak bisa berjanji sebab ia sendiri juga belum tahu apakah Maro pulang atau tidak. Ego dan kemarahan Raka pun masih sebesar di hari ketika ia tahu Nala dilarikan ke rumah sakit.
“Adek kenapa selalu cari kak Maro? Adek gak suka ya kalau cuma ada abang yang di sini?” tanya Raka tanpa melepas pandangan dari sang adik. Tangannya merapikan rambut di dahi Nala. “Selalu inginnya kak Maro saja?”
Tanpa diduga, Nala langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap sang kakak, lalu lucunya, anak itu mengambil tangan Raka dan menepuk-nepuk pelan punggung tangan Raka.
“No no no jealous no no no. Bukan begitu, Abang .... Nala eum—cari akak karena, karena akak selalu gak ada ....”
Raka tersenyum dan menepuk pelan puncak kepala Nala. Ia mengerti dengan maksud anak itu. Lantas, Raka memilih duduk di samping adiknya. Memperhatikan beberapa detik wajah adiknya yang masih agak pucat, tetapi jauh lebih baik dari sebelumnya. Raka bernapas lega.
“Iya ... nanti, kalau kak Maro pulang, abang bilangin kalau Adek mau bilang makasih, ya?”
Mengangguk-angguk lucu dengan antusias, lantas Nala mengucap, “Makasih banyak-banyak ndeee, Abang! Nala sayang lebih besar Abang Raka many-many more!“
Raka tertawa. Dengan jahilnya ia mencubit pipi Nala karena gemas hingga anak itu protes.
Saat ini masih pukul sembilan pagi. Sarapan nasi goreng yang dibuat sudah habis—karena ia memang sengaja memasak dua porsi untuk dirinya dan juga Nala, sebab anak itu tadi belum bangun.
“Abang buatkan sarapan dulu, ya? Adek kalau ada apa-apa, nanti teriak yang keras, bisa?”
Bibir Nala melengkung ke bawah seperti anak kecil berumur dua tahun ketika hendak menangis. “Ndak bisa, ey .... Abang tahu sungguh Nala tenggorokan masih sakit ....”
Raka langsung tertawa lepas. Setiap sakit, Nala memang jauh lebih menggemaskan dan juga manja seperti anak kecil. “Iya, iya. Kalau begitu, Adek bisa turun ke bawah?”
“Bisa!” jawabnya semangat. “Eum ... Api—tapi, boleh ndak sedikit tidur lagi? Masih sisa-sisa mengantuknya, Abang ....”
“Oh ... masih sedikit mengantuk. Iya, begitu?”
“E-eum ...,” kata Nala sambil menguap kecil dan mengucek matanya.
Sungguh, Raka tidak pernah memandang adik-adiknya sebagai anak remaja berumur tujuh belas tahun. Lihat saja! Mana ada anak remaja tetapi begitu lucu dan menggemaskan seperti Nala?