Lover, Please Stay

Apakah ada yang bisa digenggam dengan erat?
Desember, 2014.
Ada beberapa hal yang ternyata tidak bisa kugenggam dengan kuat. Salah satunya, ketika hari di salah satu bulan Desember kala itu.
Rasanya, baru kemarin aku melihat jernih bola matanya ketika membalas tatapanku. Baru kemarin juga rasanya ketika ia menyentuh telapak tanganku, digenggamnya dengan erat serta hangat. Namun nyatanya, itu sudah tiga tahun berlalu. Tahun-tahun yang kulewati tanpa ada lagi raganya yang fana untuk kusentuh.
“Kalau kamu butuh aku, di sini, aku selalu ada.”
Katanya, seperti itu. Namun nyatanya, ketika aku memintanya menetap untuk kata selamanya, ia justru membalas;
“Aku harus ke sana. Pergi.”
Saat itu, tentu saja gejolak yang ada menyeruak keluar. Ulu hati yang ditikam menggonggong keras. Bertanya-tanya, sekiranya mengapa tempat yang sebelumnya menawarkan diri, justru menjadi hal yang paling dulu pergi?
Apa yang salah? Di mana letak kesalahannya?
Aku tidak mengerti. Lebih tepatnya, tidak ingin mencoba untuk mengerti. Semuanya terlalu abu. Untuk dikatakan mengerti, nyatanya tidak. Untuk dikatakan tidak, nyatanya dipaksa untuk mengerti.
Lalu tanpa diduga, tiba-tiba saja, sebulan setelah itu, tepatnya Januari, ia memberi sebuah kabar yang disampaikan oleh koak burung gagak. Deburan laut yang kala itu kupandang, mendadak bergulung-gulung menyeramkan bersamaan dengan berita yang kuterima hari itu.
Pamit yang seharusnya kuterima, justru terkubur bersamanya dalam enam kaki di bawah tanah.
Aku pikir, genggamanku di bulan sebelumnya adalah genggaman sungguhan yang paling kuat. Benar-benar terkuat di dunia. Namun ternyata, tidak. Sebab hidup selalu memiliki fase terhebatnya, yaitu kematian.
Meskipun kugenggam erat di dunia, itu tidak cukup. Karena dunia 'sana' yang ia bilang, justru lebih kuat dari apa pun yang pernah ada.
Dia yang menawarkan kata untuk selalu ada, kini menjadi kata yang menawarkan traumatis pahit akan kepergian.
Kupikir, tiga tahun berlalu, sudah seharusnya aku menyambut kematiannya dengan baik. Tetapi pada nyatanya, tetap tidak bisa.
Yang terus kupikirkan sejauh ini adalah kalimat yang seharusnnya membalas ucapannya untuk menahan dan tetap memintanya tinggal.
“Jangan pergi. Jangan kemana-mana. Sebab, entah bagaimana selanjutnya aku bisa menjalani hidup tanpa ada yang membalas genggamanku.”