I Would Die for You.

“I can't take this pain forever.”
Dia bilang seperti itu setelah Kyana membawanya masuk ke dalam apartemennya. Lelaki itu setengah mabuk dengan mata sedikit sayu dan wajah memerah.
Entah apa yang membuatnya dalam keadaan seperti itu untuk mengunjungi Kyana. Gadis itu juga tidak bisa menolaknya, sebab, itu adalah Mark. Orang yang selama ini telah menjadi tempatnya berkeluh-kesah.
Mark duduk pada salah satu kursi di pantri. Dia sedikit menunduk, mencoba mengenyahkan pening di kepalanya. Kyana mendekatinya, memberikannya sekaleng susu dan semangkuk sup hangat serta obat pereda pengar.
“Gue nggak mabuk, Kyana,” kata lelaki itu.
Kyana mendengus seraya melirik pada jarum jam yang menginjak angka dua.
“Nggak mabuk,” ulangnya mengejek, “kata orang yang hampir aja jatuh sempoyongan,” dumalnya.
Anehnya, Mark justru terkekeh dengan senyum kecilnya yang terbit. Kedua lensa mata obsidian itu menatap lurus pada Kyana. “Seriously, Kyana. I can't take this pain forever.”
“Pain of what?”
Mark sempat tergugu. Namun, matanya bergerak mengikuti lensa Kyana yang mencoba berlari untuk tak menatap lelaki itu. “The feeling I'm goin' through.”
“Oh, gue ngerti. Jadi, lo lagi cari cara untuk articulate your feelings?” tanya Kyana, dan Mark mengangguk lesu.
“But,”
“Kenapa lagi?”
“Susah, Kya. It's too hard for me to communicate the thoughts that I hold, Kyana.”
Gadis itu menghela napas, tetap mencoba tak menatap Mark. “Kenapa?”
“See it in your eyes. You hate that you want me.”
Dia tertawa. “Ngaco, lo!”
“Gue serius, Kyana.”
Tawanya lenyap digantikan wajah keterkejutan yang perlahan berubah serius. “Lo tahu alasannya, Mark. Semuanya nggak semudah itu.”
Mata Mark tetap mencoba menatap ke arah Kyana, dia mengangkat tangannya dan menyentuh dagu gadis itu untuk membalas tatapannya seraya memajukan tubuh mendekatinya. “Gue ngerti and I've tried to find reason to pull us apart,” Lelaki itu menggeleng lesu. “It ain't working.”
Wajah mereka kian mendekat hingga Kyana menahan napasnya. Mark kini mampu menatap lensa cokelat hangat itu dari dekat. Ia tersenyum manis, seolah balasan tatapan Kyana turut melembut memeluknya dengan hangat. Tatapan Mark turun, pada bibir ranum semerah rubi di hadapannya. Embusan mereka hampir menyatu. Namun, Mark buru-buru melengos menjatuhkan keningnya pada pundak Kyana.
“Mark?” Lelaki itu membalasnya dengan bergumam berat. “Hm?”
“The distance and the time between us—”
Mark mengangkat kepala. Bibirnya ia dekatkan pada daun telinga Kyana dan berbisik, “It'll never change my mind, 'cause baby I just want you, and would die for you,” ucapnya sebelum ia memberikan ribuan kupu-kupu pada perut Kyana melalui ciumannya yang lembut di atas bibirnya. end.