Untuk Bulan, sang Lampu Malam

Cosmic radiation

Kepada bulan, luka aku telah seluruhnya membiru.


Waktu berlalu. Mungkin saja segala hal yang ada di alam semesta sudah berjalan tak lagi bisa dihitung angka. Maka itulah, tak ada yang tahu kapan sang ratu malam lahir dan menangis untuk pertama kali.

Pun denganku, matahari yang eksistensinya hampir menyerupai denganmu untuk menjadi lampu bumi.

Kita sama-sama berkelana mengarungi jagat hingga kemudian dikenal sebagai satelit. Manusia, makhluk di bumi menyebutnya begitu. Di segala tahun yang telah berlalu, mereka lebih mengagumi kamu, bulan. Begitu pun, denganku; matahari yang sekalipun eksistensinya sama, tapi tak pernah satu kali pun menggandeng telapak tangan dinginnya.

Kata mereka, memang sampai kapanpun, jarak akan selalu membentang untuk memberi jeda agar tangan kami tak akan pernah bertaut. Tentu saja mereka begitu. Sebab, sekalipun aku sang raja siang, ratu malam yang dingin tetaplah menjadi yang paling dikagumi dan disembah. Mereka begitu protektif dan sayang padamu.

Pun denganku. Bulan, kamu tahu? Aku sempat marah pada mereka karena sangat melarangku berjumpa denganmu sebab dalih melindungi.

Namun, kini, aku mengerti. Jarak di antara kita nyatanya sudah permanen. Tidak bisa diganggu gugat. Apalagi, negosiasi.

Sebabnya, ini untukmu bulan. Si lampu malam.

Bulan, kamu begitu cemerlang di seluruh langit, alam semesta, dan hal lain yang mungkin pernah ada. Begitu cerah, putih, dan tenang. Tak pantas aku yang menggebu-gebu, agresif, dan ramai yang menimbulkan umpatan mereka karena emosiku yang panas untuk bersanding denganmu yang jelita. Pantas mereka melarangku untukmu.

Itu sebabnya, tak pernah sekalipun aku mampu berbincang denganmu, melemparkan goyonan jenaka yang dapat membuatmu terpingkal, atau menyatakan rasa yang terpaksa harus ditekan kehadirannya.

Bulan, aku tenggelam tanpa sempat menyapamu. Kakiku yang belari padamu selalu lumpuh di tengah jalan, lalu benar-benar lenyap tak mampu memandangmu lagi.

Semuanya selalu membiru, bulan; tentang keinginanku menggenggam tanganmu, tentang luka akan rasa yang harus segera ditiadakan. Padahal, mereka yang tak menginginkan 'kita' ada selalu bilang bahwa cinta bergerak liar dan bebas tanpa perlu dihilangkan.

copyrights © 2022 by Suniskie.